Cerita Lapangan
Berdinding tambalan fosil terpal dan karung lapuk setinggi 1 meter, tanpa pintu, tidak beratap, dan tulang penyangga tiap sudut dibuat dari setangkai bilah bambu, jamban umum ini dipakai oleh 4 keluarga dari rumah-rumah terpisah, warga yang hendak ke ladang, dan tetangga sekitar.
Meskipun sambungan L cubluk biru di dalamnya sering membludak karena saluran buang mampet, jamban ini istimewa dikarenakan berjasa besar bagi warga. Inilah si jamban andalan. Dari sinilah warga menjinjing ember air untuk masak dan minum, maklum di tempat mereka air sering keruh.
Dari seke yang dangkal dan tak nampak seperti sumber air, bayangkan instalasi pemipaan yang ala kadarnya. Selang bekas dan pipa-pipa dengan tambalan karet gelang, disambung-sambung paksa tak sempurna demi mengalirkan air dari seke (mata air) yang lebih mirip disebut genangan lumpur berlumut.
Tidak heran air-air seke menjadi susut. Sebab ceruk-ceruk kantung air yang berada di lembah atau apitan dua tanah ketinggian tak lagi menyerap air. Bagaimana ada air kalau bagian dalam tanah bukit-bukit Cimenyan selama berpuluh tahun tak lagi ditembusi akar-akar pohon, lha wong pepohonannya saja dianggap hama sehingga diberantas sampai rata tanah. Tidak berlarut menangisi kebodohan manusia, kawanan akar-akar itu mempersembahkan akhir hidupnya untuk kemanfaatan alam. Mereka menyerahkan diri kepada gerogotan sisa-sisa mikroorganisme yang bersaing demi bertahan hidup. Lihat Rusak Kota Rusak Desa https://youtu.be/zYmVFFQH_5U?si=dtUXuZcAs1PPvOB0
Di kampung Cadas Gantung dan Pamoyanan, seorang jurnalis lapangan senior, Enton Supriyatna, menjalankan tugas penggalian data untuk Program Pemberdayaan Odesa. Ditemani petani binaan, Toha Odik, Enton mendata warga yang kesulitan akses air bersih. Verifikasi dan pelaporan dijalankan sebagai bagian dari standar kerja agar program Odesa tepat sasaran.
Video yang diambil pada 2 Februari 2022 ini menunjukkan, betapa setelah 6 tahun berlalu (2017) sejak Faiz Manshur (saat itu ditemani Mudris dan Khoiril) menemukan untuk kali pertama kasus pembiaran warga yang bertahun-tahun tergeletak sakit tak berdaya dan tiada bantuan tetangga apalagi sekadar perhatian dan kepedulian dari pemerintah, ternyata dusun Cadas Gantung pun masih menjadi area terpencil dengan hampir semua penduduk hidup dalam ketidakberdayaan akut.
Jikalau tak mempan hati penguasa diketuk untuk melangsungkan tugas berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, Odesa meyakini masih banyak lapisan masyarakat terutama warga perkotaan yang memiliki semangat empati dan kepedulian kewargaan. Kami menantikan darma baktinya.*