Cerita Lapangan
Apa Kata Tokoh Soal Odesa?
Dalam paparan soal gizi keluarga yang disampaikan Dr Tan Shot Yen kepada relawan mahasiswa, ada kesan bergidik pada gestur tubuhnya agar Odesa tidak sebatas menjadi lembaga charity semata.
Bergerak dengan kematangan ilmu sosial dan humaniora, Faiz Manshur (Ketua Odesa) menahkodai jalannya organisasi dengan landasan cinta kasih kepada sesama (filantropi), tetapi itu semua diarahkan pada langkah yang jelas dan tegas, yakni Pemberdayaan melalui Pendampingan.
Dan atas karunia Allah Swt, dengan segala kerendahan hati dan syukur serta terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat, Odesa Indonesia telah menorehkan hasil. Indikator keberhasilan 10 tahun perjalanan pemberdayaan petani bisa ditemukan di antaranya pada:
1. Tumbuh keterbukaan pikiran petani yang bersedia menerima pengetahuan model bertani baru yang digagas Ketua Odesa, yaitu bertani polikultur berbasis Agroforestry.
Model bertani lama, monokultur - bertanam satu jenis tanaman (sayur/umbi/kacang/bawang saja) - masih tetap dijalankan petani mengingat hanya itu akses ekonomi yang dimiliki petani miskin untuk bertahan hidup jangka pendek.
Namun demikian, petani menyambut baik bertani pohon buah sebagai upaya pemenuhan ekonomi jangka panjang. Terlebih, selama separuh hidupnya, petani yang kerap tidak memiliki modal untuk pembelian pupuk pun, menjadi sangat terbantu dengan bantuan bibit aneka pohon buah, menyusul bibit kopi, kelor (moringa), hanjeli, dan pepaya yang telah jauh lebih dulu menjadi media Odesa dalam program pemberdayaan.
2. Lahir kesadaran petani berkat pergaulan intensif Odesa melalui pendampingan di lapangan.
Kesadaran kolektif di kalangan petani binaan tidak muncul begitu saja. Kurang lebih 5 tahun ke belakang, sejak Faiz Manshur memprakarsai program tanam bibit aneka pohon buah, mulai dari dari manfaat konsumsi gizi buah pepaya dan buah lain untuk sekeluarga, kemudian naik level ke manfaat ekonomi, di mana petani bisa memperoleh tambahan penghasilan dari kelebihan panennya, kesadaran penyelamatan lahan-lahan kritis pun lahir pada diri petani. Terlebih mereka sering menyaksikan rumah tetangganya longsor bahkan merasakan sendiri abrasi tanah hingga puluhan cm. Banjir lumpur di sepanjang jalanan dan permukaan tanah yang lebih rendah juga sudah dianggap hal yang lazim setiap musim hujan. Padahal curamnya posisi pebukitan Cimenyan yang hanya 5 KM ke jalan raya dan pemukiman Kota Bandung juga menjadi langganan penampung banjir lumpur. Lumpur dari tanah sakit asal Cimenyan juga terbawa bervolume-volume hingga aliran sungai-sungai hilir di Kota Bandung.
3. Permintaan bibit pohon buah meluas di kalangan petani.
Permintaan bibit pohon buah, mulai dari durian, alpukat, sawo, nangka, mangga, jeruk, sirsak, belimbing, sukun, jambu, cengkeh, kayu manis dll. semakin meluas setelah mereka menyaksikan hasil panen teman-temannya dari program pembagian bibit 5 tahun yang lalu.
Perjalanan Odesa bersama petani masihlah panjang. Faiz Manshur selalu mengingatkan bahwa untuk membangun Indonesia, harus dimulai dari desa. Tidak ada kedaulatan budaya pada individu, masyarakat, dan negara, tanpa ada praktik kerja agrikultur, sebagaimana pesan Remy Sylado. Dan tidak ada keberhasilan pemberdayaan tanpa melibatkan masyarakat secara aktif, ujar Vivian Idris.
Tindakan nyata Odesa Indonesia sebagai organisasi sosial independen pemberdaya petani miskin lewat pertanian polikultur berbasis Agroforestry, baik di pekarangan maupun di lahan-lahan kritis, bisa ditiru daerah lain di seluruh wilayah Indonesia, dengan ragam pepohonan menyesuaikan kebutuhan ekonomis dan watak alam sekitar.
Dengan demikian apa yang disampaikan Pembina Indonesia, Budhiana Kartawidjaya mengenai kemiskinan struktural, masyarakat tidak perlu menunggu harapan kosong dari negara dan pemerintah untuk terjadinya perbaikan.
Almarhum Profesor Darjatmoko saat memberikan ceramah umum HUT Odesa pada 2018 berpesan, sudah saatnya Odesa Indonesia menjadi Barefoot University (Universitas Telanjang Kaki).
Alhasil kenyataannya memang berlangsung demikian hingga hari ini. Berjalan menyusuri kampung-kampung, menyisir rumah-rumah tidak layak huni, duduk mendampingi dan mendengarkan keluhan para lansia janda/duda, mengusahakan pengobatan bagi si sakit, mencarikan jalan keluar lewat beasiswa dan pendampingan sekolah literasi SaMin untuk anak-anak petani dan keluarga miskin, yang minus literasi dan buta aksara, mendekatkan air bersih dan mengadakan WC umum ke area-area dekat rumah penduduk, merupakan praktik rutin Ketua, pengurus, dan relawan dengan keyakinan spiritual sebagaimana nasihat sang Pintu Kota Ilmu, Imam Ali Bin Abi Thalib AS, bahwa "Tuhan dekat dengan orang-orang yang menghibur mereka yang patah hatinya".
Ulil Abshar Abdalla suatu saat (6 tahun yang lalu) memberikan kuliah umum yang renyah di hadapan petani binaan dan relawan Odesa bahwa, keberadaan wadah yang kritis seperti Odesa ini sangat diperlukan bagi Indonesia.*