Donasi
← Semua Video Dampak Lingkungan

Eksploitasi Salah Kaprah (Lahan Kritis KBU - Kota Bandung Terancam Bencana)

Padahal Oray Tapa, Hutan Arcamanik, Tebing Keraton, dan ketinggian-ketinggian puncak dataran tinggi lainnya di kawasan Cimenyan menyimpan jejak tapak perjalanan Prabu Siliwangi. Sayangnya, dataran-dataran tinggi kecamatan Cimenyan telah menampakkan wajah yang berbeda. Gurun pasir yang tandus dan gersang sama sekali tidaklah eksotik. Justru menjadi wahana kesengsaraan hidup manusia dan hewan, potensial melahirkan bencana bagi kawasan setempat hingga kota Bandung. Sepanjang 10 tahun terakhir ini, 400.000 bibit pohon buah telah dibagikan Odesa Indonesia kepada ratusan petani untuk ditanamkan secara menyebar, baik di pekarangan maupun di lahan-lahan kritis Cimenyan. Tetapi karena kerusakan dataran tinggi KBU ini sudah berlangsung puluhan tahun dan meluas, butuh sekira 10 juta bibit pohon untuk menyelamatkan lahan-lahan kritis.

Eksploitasi Salah Kaprah (Lahan Kritis KBU - Kota Bandung Terancam Bencana)

Cerita Lapangan

Padang pasir adalah sebutan untuk hamparan luas dataran yang sejauh mata memandang hanya tampak tanah berpasir. Tidak ada tumbuhan rumput, semak, apalagi pohon. Itulah gurun pasir yang kita tahu, seperti halnya Sahara, Arab, Gobi, dan lain-lain.

Tapi Cimenyan adalah Priangan!

Secara topografi kecamatan Cimenyan dikelilingi pebukitan dan lereng dengan ketinggian mulai dari 800 hingga 1500 di atas permukaan tanah. Buminya secara kodrati merupakan dataran tinggi bertanah subur. Watak alamiah dari tanah-tanah di Kawasan Bandung Utara ini mampu menumbuhkan pohon-pohon tinggi bahkan manakala tidak sengaja ditanami oleh manusia. Tapi dengan satu syarat, masih ada hewan-hewan penebar biji.

Kami membuktikan itu di pekarangan sendiri. Burung, kelelawar, tupai, dan luwak, kerap menjatuhkan sisa gerogotan biji buah dan beri-berian di mana pun sesuka hati mereka. Biji-biji itu tumbuh dengan pemeliharaan alam semesta. Bahkan apabila tidak kita usik, tetumbuhan itu sampai menjelma pohon dan berbuah.

Lantas mengapa sampai ada padang gurun pasir di Kecamatan Cimenyan?
Bukan eksotika yang terbetik, tapi miris. Cobalah amati dari dekat. Pebukitan tandus Cimenyan adalah tanah sakit bahkan tanah mati. Gundul, gersang, kering dan menggumpal. Tidak ada capung, kumbang, dan serangga di atas permukaan tanah. Tidak akan kita temukan mikrooganisme apa pun di kedalaman galian.

Mati, karena sekali roundup berbahan glifosat disemprotkan, maka sepanjang 2-3 tahun (4-6 kali masa tanam) tidak akan ada makhluk hidup seperti rumput dan mikroorganisme yang bisa hidup. Padahal ilmu hayat yang paling dasar saja menunjukkan bahwa ukuran kehidupan tanah diindikasikan lewat tumbuhnya rumput. Tapi dengan sebaran semprotan roundup ke hamparan tanah, tidak akan ada rumput dan gulma yang sanggup hidup.

Bayangkan, pembodohan oleh produsen herbisida dan pupuk kimia begitu bercokol sehingga nyaris setiap kali musim tanam penyemprotan selalu diulang. Tidak hanya tanah yang dicekoki produsen pupuk/herbisida/pestisida kepada petani untuk perlakuan pratanam, bahkan prakondisi pertumbuhan tanaman pun didoktrinkan lewat perlakuan penebasan pohon-pohon tinggi.

Dengan model pertanian monokultur-saja apakah masyarakat buruh tani lantas sejahtera? Lihat Ancaman Bencana dari Bandung Utara (https://odesaindonesia.id/video-dampak/ancaman-bencana-dari-bandung-utara/).

Sektor pertanian dataran tinggi adalah keniscayaan, mengingat mayoritas penduduknya bermata-pencaharian di pertanian. Tetapi ada kekeliruan praktik bertani, pengaplikasian obat-obatan pembasmi gulma dan hama secara terus-menerus hingga titik jenuh, dan kegiatan pertanian ekstrem semisal penggundulan pepohonan membabi-buta. Semua praktik ini pada akhirnya melahirkan ketidakseimbangan pada siklus hidup tanah, air, dan udara.

Di sinilah masyarakat mempertanyakan peran dan tanggung jawab pemerintah. Mengingat pembinaan dan pengawasan pembangunan Kawasan Bandung Utara (KBU) adalah tanggung jawab Gubernur. Di mana letak keadilan dan kesetaraan pembangunan pedesaan apabila Pertanian Dataran Tinggi, Konservasi Lahan Hutan, dan Area Pariwisata semuanya tidak jelas arah, tumpang-tindih dan acak-acakan?*