Donasi
← Semua Video Dampak Lingkungan

Ini yang Mesti dilakukan untuk Rakyat Desa -Faiz Manshur Ketua Odesa Indonesia

Cimenyan menyimpan dua persoalan besar: kemiskinan petani dan kerusakan lingkungan. Banyak keluarga buruh tani hidup dalam keterbatasan air bersih, sanitasi, pendidikan, dan penghasilan. Di sisi lain, lahan-lahan perbukitan mengalami kerusakan akibat minimnya pepohonan dan pola tanam yang tidak seimbang. Odesa Indonesia bersama para donatur mendampingi petani melalui penanaman aneka pohon buah di pekarangan dan lahan kritis. Program ini membantu petani memperoleh harapan ekonomi baru, sekaligus memulihkan tanah, menjaga air, mengurangi risiko longsor, dan memperbaiki ekologi desa. Setiap bibit yang ditanam adalah bagian dari ikhtiar panjang untuk menguatkan petani dan menyembuhkan lingkungan Cimenyan.

Ini yang Mesti dilakukan untuk Rakyat Desa -Faiz Manshur Ketua Odesa Indonesia

Cerita Lapangan

Di Mana Peran Negara?
(Ketidakadilan Terhadap Rakyat)
Ke mana saja negara selama ini? Menjadi pertanyaan menohok jika cara berpikir kita sudah mulai kritis mempertanyakan ketidakadilan sosial yang dialami rakyat negeri ini.

Bukan saja di Cimenyan yang hanya berjarak 10 kilometer dari pusat pemerintahan Kota Bandung, tetapi faktanya kemiskinan struktural dibiarkan berlangsung di hampir semua wilayah terpencil di seluruh pelosok Indonesia. Ada kondisi kontras yang bertolak belakang, ada ketidaksetaraan perhatian dan pembangunan antara gegap gempita pembangunan di perkotaan dan pembiaran keadaan di pedesaan.

Penduduk miskin Cimenyan yang mayoritas berlatar belakang buruh tani, hidup dalam rumah-rumah tidak layak huni. Tidak ada air bersih dan toilet selama berpuluh tahun. Untuk mendapatkan air, sebagian penduduk harus berjalan kaki sepanjang 2 kilometer menuruni lembah menuju sungai. Mereka mandi, cuci, kakus dan mengambil air minum dengan ember dari sungai. Masih banyak orang dewasa buta aksara. Lebih parah lagi keterpurukan ini diturunkan kepada anak-anak mereka sehingga mengalami rendah literasi. Keminiman ketersediaan bahkan ketiadaan sekolah-sekolah ditambah jarak yang jauh dari pemukiman penduduk, keluarga petani yang tidak berdaya dalam hal pengetahuan dan ekonomi lebih memilih membiarkan anak-anak mereka putus sekolah.

Bukan saja dalam kehidupan ekonomi dan sosial, penduduk merasakan ketidakberdayaan, bahkan alam dan lingkungan tempat mereka mencari matapencaharian pun dibiarkan tak berdaya. Lahan pertanian rusak dan krisis. Tanah pebukitan gundul tanpa pepohonan akibat praktik bertani monokultur sayuran. Area hutan menyusut signifikan akibat alih fungsi dari lahan konservasi menjadi lahan perkebunan sayur. Praktik pupuk kimia dan pestisida berpuluh-puluh tahun tidak diimbangi ketersediaan bahan organik secara natural dari alam semisal pohon dan aneka hewan, menjadikan tanah pebukitan Cimenyan rusak dan sakit parah. Ciri tanah sakit itu berwarna merah, kering, dan sama sekali tidak mengandung unsur hara maupun kehidupan mikroorganisme.

Tanah pebukitan kering dan rapuh karena tidak pernah ada pengikat dari akar pohon. Inilah yang menjadi penyebab longsor yang terus-menerus. Setiap tahun, bervolume-volume tanah pebukitan tergerus hujan deras dan banjir mengalirkan lumpur ke hilir di kota Bandung.

Dari gerakan pemberdayaan berkelanjutan Odesa terhadap rakyat petani miskin melalui penanaman aneka pohon buah di pekarangan petani dan lahan-lahan kritis, kita jadi mengerti betapa Negara selama ini tidak pernah hadir bagi rakyatnya.

Terbukti, ketika Odesa bersama mitra donaturnya hadir membawa bantuan bibit pohon, dan Odesa melakukan pemberdayaan dan pendampingan secara rutin berkelanjutan, para petani itu menyambut baik. Pola pikir mereka akan kerusakan alam turut berubah.

Melalui pemberdayaan Odesa, petani jadi sadar akan pentingnya menanam polikultur aneka pohon buah sebagai bentuk menyeimbangkan kondisi alam yang rusak akibat menanam monokultur.*