Donasi
← Semua Video Dampak Pendidikan

Buku Pendidikan Sekolah Terakhir Karya Fathul Wahid Rektor UII Yogyakarta Bacaan Relawan Odesa

Faiz Manshur mengapresiasi novel Pendidikan Terakhir karya Fathul Wahid sebagai karya yang mampu mengangkat persoalan sosial yang kompleks menjadi bacaan yang ringan dan mudah dipahami. Novel ini memotret kemiskinan, ketidakadilan, ketimpangan sosial, birokrasi yang menjauh dari rakyat, serta makna pendidikan dalam kehidupan masyarakat. Bagi Faiz, gagasan dalam novel ini sangat dekat dengan kerja nyata Odesa Indonesia selama lebih dari 10 tahun dalam mendampingi petani miskin dan membangun pendidikan literasi berbasis ekologi bagi anak-anak petani di Cimenyan. Melalui 14 basis pendidikan literasi di kampung-kampung Cimenyan, para relawan mahasiswa belajar langsung dari kehidupan masyarakat. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga mengalami praktik ilmu sosial, kemanusiaan, pelayanan, dan pemberdayaan. Dari pengalaman itulah pendidikan menemukan makna terdalamnya: belajar, mengajar, melayani, dan memproduksi ilmu pengetahuan dari kenyataan hidup.

Buku Pendidikan Sekolah Terakhir Karya Fathul Wahid Rektor UII Yogyakarta Bacaan Relawan Odesa

Cerita Lapangan

Apresiasi Faiz Manshur atas Novel Pendidikan Terakhir Fathul Wahid

Bermula karena terkesan dengan sebuah cerpen karya Fathul Wahid, Faiz Manshur lantas mengapresiasi buku novel terbaru karya beliau yang berjudul Pendidikan Terakhir. Butuh 3 jam saja bagi Faiz untuk menamatkan novel ini. Menurutnya, salah satu kelebihan Fathul Wahid dalam karyanya ini adalah kemampuannya mengartikulasikan masalah yang kompleks menjadi bacaan yang ringan dan mudah dipahami.

Fathul memotret realitas sosial terkait kemiskinan, ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum miskin dan lemah, ketimpangan sosial, kelalaian negara dan pemerintah, birokratisme yang menghambat ketersampaiannya pelayanan kepada masyarakat, dan yang terpenting adalah mengenai esensi pendidikan itu sendiri.

Masih menurut Faiz, potret realitas yang tersaji dalam novel ini sangat relevan dan tersambung dengan apa yang dalam 10 tahun terakhir ini menjadi gerakan aksi nyata diri bersama rekan-rekannya dalam organisasi Odesa Indonesia. Bagi Faiz, seluruh kegiatan organisasi yang bermuara pada pemberdayaan dan pendampingan petani miskin serta pendidikan literasi berbasis ekologi anak-anak petani berhulu pada satu cita-cita dan nilai luhur, yakni pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Empat belas (14) basis pendidikan literasi tersebar di kampung-kampung berbeda di kawasan Cimenyan. Setiap minggu, puluhan relawan mahasiswa dari berbagai kampus dan pendidikan tinggi di Kota Bandung melakukan aksi nyata mendampingi dan mengajar anak-anak petani di 14 kampung tersebut. Faiz kerap menekankan kepada para relawan mahasiswa dari beragam jurusan berbeda ini mengenai pentingnya mengalami langsung praktik ilmu sosial dan humaniora.

Melayani dengan cara mendampingi dan mengajar anak-anak dan remaja di pedesaan, bukan berarti setiap individu relawan pengajar adalah manusia-manusia yang bebas dari masalah dan tidak memiliki persoalan dalam kehidupan dan penghidupannya. Justru di sinilah esensi keinsaniahan manusia akan teruji melalui pendidikan diri dan kolektif yang melampaui kemestian berempati.

Faiz meyakini dengan teori yang beliau produksi dari pengalaman pribadinya terutama dari gerakan Civic Islam bersama AE Priyono dan kawan-kawan, dan kini melalui pengorganisiran dan pemberdayaan lewat Odesa Indonesia, bahwa manakala lewat praktik langsung para mahasiswa mengalami secara intens bagaimana berorganisasi, berinteraksi dengan masyarakat dan mendengarkan masalah yang mereka alami, memberikan pelayanan pendampingan dan menyampaikan pemberian bantuan solusi baik berupa wawasan dan pengetahuan maupun amal sumbangan materi, di sinilah mahasiswa akan merasakan lompatan pengalaman sehingga mengkristal dalam wujud pengertian dan pemahaman.

Maka di sinilah kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi aset-aset bangsa yang mampu memproduksi ilmu pengetahuan sendiri. Faiz menutup ulasannya dengan catatan penting yang wajib dimiliki bangsa ini jikalau ingin menghasilkan warga-warga berkualitas, yakni Belajar Mengajar.*