Cerita Lapangan
Rusak Kota Rusak Desa
Hanya sejengkal jarak antarban motor depan belakang. Demikian pula mobil. Kepadatan jalan hanya seinci dari bibir trotoar. Gas berderu, bunyi klakson pun saling sahut. Memang asapnya sering tidak terlalu tampak oleh mata-mata yang lelah selain terasa di pernapasan, tetapi residu knalpot sesungguhnya menggumpal, mengepul, dan akhirnya menyelimuti udara jalanan, naik ke langit kota Bandung.
Dari pebukitan gundul kabupaten Cimenyan di kawasan utara, langit di dataran kota Bandung kerap menampakkan selimut tebal abu kecoklatan. Faiz Manshur, menyebut kondisi akibat muntahan polutan tersebut sering menampakkan langit yang kontras di ketinggian bukit tempat ia berdiri.
Menurut Faiz, bukan hanya kota yang rusak. Desa juga semakin rusak. Kawasan Bandung Utara (KBU), tepatnya Cimenyan, malah menyimpan kerusakan yang lebih memprihatinkan.
Masih di tempatnya berdiri, terlihat ceruk yang diapit dua pebukitan kecil. Ceruk tersebut merupakan kantung-kantung serapan air bukit. Sayang, permukaan atas tanah pebukitannya minim pepohonan, bahkan sebagian besar gundul.
Kerusakan tersebut banyak dijumpai di sepanjang KBU, termasuk Cimenyan. Berpuluh tahun telah lenyap pepohonan ditebas habis. Tanah kerontang, merah meradang. Panas memanggang setia menemani kerja sehari-hari petani.
Di luar pohon kopi, pohon kelor dan pohon pepaya, selama 10 tahun terakhir 400.000 ribu bibit pohon buah telah disebarkan Odesa Indonesia kepada petani di kawasan Cimenyan secara gratis. Orang-orang kota yang peduli sesama dan kondisi alam yang rusak berkontribusi dalam menyumbang bibit.
Menurut Faiz Manshur, petani menyambut baik bertani polikultur. Khusus di daerah Merakdampit, dalam 2 tahun terakhir ini petani menyelang posisi penanaman pohon pepaya di antara tanaman pendek sayuran. 12.000 bibit pohon pepaya disebarkan kepada petani.
Khusus di daerah ini, masih dibutuhkan sekira 300 bibit pohon pepaya dan pohon buah. Pohon pepaya sendiri tidak saja bermanfaat untuk konsumsi dan tambahan penghasilan, petani bahkan mencampurkan daun pepaya ke dalam pangan ternak kambing dan unggas mereka.
Secara menyeluruh, keterbukaan pikiran ratusan petani selama 10 tahun terakhir pemberdayaan telah menambah wawasan mereka akan model bertani terbarukan.
Faiz pun menambahkan, praktik bertani model baru untuk melengkapi model lama telah menumbuhkan pengetahuan dan kesadaran petani, bahwa bertani monokultur pun tidaklah menambah kesejahteraan. Yang ada malah tanah semakin merana akibat ketergantungan pada unsur kimiawi pupuk yang sudah di titik jenuh.
Tindakan konkret Odesa mengurusi persoalan ekologi dan sosial humaniora masyarakat terpinggirkan, telah membawa kesadaran bagi petani sendiri akan keniscayaan mereka menjalani hidup yang harmonis dengan alam. Faiz mengistilahkan, bahwa petani adalah aktor penyelamat ekologi.
Ketua Odesa ini menyuarakan, bahwa manakala orang perkotaan tidak mampu melakukan aksi penyelamatan ekologis, biarlah membantu menyumbang bibit buah pohon. Selebihnya biarkan petani yang menanam dan merawat lahan-lahan kritis KBU.*