Cerita Lapangan
Kemelut Kemiskinan Petani Cimenyan dan Kerusakan Akut Lahan KBU
Hidup tidak ada pilihan membelit dua kakak adik: Manusia dan Alam. Padahal keduanya adalah saudara kandung dari rahim kehidupan.
Di Cimenyan, petani bagaikan hamster yang berlari tiada henti dalam roda gulir. Ratusan bahkan ribuan petani berburuh dengan berkutat begitu-begitu saja sesuai permintaan tengkulak. Sayur ya sayur saja. Bawang ya bawang saja. Kentang ya kentang saja.
Praktik bertani satu jenis atau monokultur tersebut paling tidak suka keberadaan tanaman yang lebih tinggi terutama pohon. Padahal peran pohon adalah sebagai pengikat tanah dan air, penghasil oksigen, dan sumber penghasil pupuk dan kompos organik. Rekayasa pasar industri pupuk kimia dan pestisida sukses mendikte petani untuk hanya bergantung pada produk mereka.
Alam tidak punya pilihan, ia tidak berdaya. Pohon lenyap, mikroorganisme dan unsur hara punah. Tanah sakit akut. Diam tak bersuara, tapi pasti, tanah-tanah sakit pebukitan gundul Kawasan Bandung Utara itu meleleh tergerus bagai nanah setiap kali banjir dan hujan deras. Mengalir ke pemukiman dan jalanan di Kota Bandung.
Mirisnya, praktik monokultur tidaklah menyejahterakan petani. Tidak pernah ada kenaikan pendapatan. Semuanya dipikir petani sebagai jalan bertahan hidup. Menombok modal tani akibat harga pupuk dan pestisida terus meroket, dianggap suratan takdir.
Ribuan petani seperti berbaris menuju jurang yang dalam. Ketidakberdayaan secara ekonomi dan pengetahuan adalah akar dari praktik bertani keliru yang terus diulang. Selain ketidakadilan Negara dalam pembangunan, ditambah kemelut akibat praktik salah inilah yang menjadikan gurita kemiskinan dan kerusakan alam.
Sampai hadirlah Odesa Indonesia sejak tahun 2017, menggalang partisipasi masyarakat perkotaan untuk bersama-sama berikhtiar memecahkan masalah kemiskinan petani Cimenyan dan kerusakan alam KBU. Empat ratus ribu bibit pohon telah disebarkan, masih diperlukan sekira 10 juta pohon untuk kondisi masyarakat dan ekologis yang lebih baik.*