Donasi
← Semua Video Dampak Lingkungan

Ancaman Bencana dari Bandung Utara

Ribuan petani Cimenyan berburuh tani sesuai tuntutan tengkulak. Angan-angan sejahtera, monokultur menjadi satu bahasa. Sayur ya sayur saja. Bawang ya bawang saja. Kentang ya kentang saja. Praktik kekal bertani satu kultur, satu jenis sayur dan satu jenis pupuk kimia telah menyakiti tanah dan menebas habis pepohonan. Gundul. Lahan konservasi hutan Arcamanik susut parah. Jumud. Sebab cahaya pengetahuan tak kunjung datang menawarkan keterbaruan pengetahuan. Bersyukur, 2017 Odesa Indonesia hadir. Sampai saat ini terus berusaha menggandeng masyarakat perkotaan untuk menyumbangkan bibit pohon buah demi Kawasan Bandung Utara yang lebih baik.*

Ancaman Bencana dari Bandung Utara

Cerita Lapangan

Kemelut Kemiskinan Petani Cimenyan dan Kerusakan Akut Lahan KBU

Hidup tidak ada pilihan membelit dua kakak adik: Manusia dan Alam. Padahal keduanya adalah saudara kandung dari rahim kehidupan.

Di Cimenyan, petani bagaikan hamster yang berlari tiada henti dalam roda gulir. Ratusan bahkan ribuan petani berburuh dengan berkutat begitu-begitu saja sesuai permintaan tengkulak. Sayur ya sayur saja. Bawang ya bawang saja. Kentang ya kentang saja.

Praktik bertani satu jenis atau monokultur tersebut paling tidak suka keberadaan tanaman yang lebih tinggi terutama pohon. Padahal peran pohon adalah sebagai pengikat tanah dan air, penghasil oksigen, dan sumber penghasil pupuk dan kompos organik. Rekayasa pasar industri pupuk kimia dan pestisida sukses mendikte petani untuk hanya bergantung pada produk mereka.

Alam tidak punya pilihan, ia tidak berdaya. Pohon lenyap, mikroorganisme dan unsur hara punah. Tanah sakit akut. Diam tak bersuara, tapi pasti, tanah-tanah sakit pebukitan gundul Kawasan Bandung Utara itu meleleh tergerus bagai nanah setiap kali banjir dan hujan deras. Mengalir ke pemukiman dan jalanan di Kota Bandung.

Mirisnya, praktik monokultur tidaklah menyejahterakan petani. Tidak pernah ada kenaikan pendapatan. Semuanya dipikir petani sebagai jalan bertahan hidup. Menombok modal tani akibat harga pupuk dan pestisida terus meroket, dianggap suratan takdir.

Ribuan petani seperti berbaris menuju jurang yang dalam. Ketidakberdayaan secara ekonomi dan pengetahuan adalah akar dari praktik bertani keliru yang terus diulang. Selain ketidakadilan Negara dalam pembangunan, ditambah kemelut akibat praktik salah inilah yang menjadikan gurita kemiskinan dan kerusakan alam.

Sampai hadirlah Odesa Indonesia sejak tahun 2017, menggalang partisipasi masyarakat perkotaan untuk bersama-sama berikhtiar memecahkan masalah kemiskinan petani Cimenyan dan kerusakan alam KBU. Empat ratus ribu bibit pohon telah disebarkan, masih diperlukan sekira 10 juta pohon untuk kondisi masyarakat dan ekologis yang lebih baik.*