ImageBantu Fakir Miskin Penambang Batu
Image

Bantu Fakir Miskin Penambang Batu

Image
Cimenyan, Kab. Bandung, Jawa Barat
Rp 0 terkumpul dari Rp 21.870.000
0 Donasi 2 bulan, 18 hari lagi

Penggalang Dana

Image
Image
Verified Organization

Puluhan tahun mereka bertahan hidup dengan tenaga. Seusai sholat subuh mereka bergegas ke perbukitan berjarak satu hingga dua kilometer dari rumahnya.

Bagi mereka, berangkat pagi jam 15.30 adalah penting supaya energi mereka lebih bugar untuk memecah bebatuan yang keras. Hingga jam 09.00 biasanya mereka butuh istirahat. sejenak ngopi dan minum mereka akan kembali mengayunkan palu memecah batu hingga jam 12.00. Tengah siang yang terik itu biasanya mereka makan, sholat dan menyempatkan ngarit untuk domba atau mencari kayu bakar di sekitar perbukitan terdekat. Pada jam 13.30 biasanya mereka kembali. Selesai? Tidak. Mereka akan menghabiskan energinya sampai 15.00.

Itulah rutinitas penggali batu. Di sini ada 27 penggali batu. Sebagian warga Cikored dan Sentak Dulang Desa Mekarmanik. Sebagian lagi warga Cisanggarung Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Telah panjang kisah hidup mereka berurusan dengan bebatuan. Telah banyak cerita yang kebanyakan memilukan karena pekerjaan mereka harus bergantung pada otot, palu, tatah dan palu.

Dari sisi kerja keras mereka sangat luar biasa. Hidup dengan ketekunan dan kerja keras untuk menghasilkan kecukupan. Tetapi sisi ekonomi ternyata membuat mereka tak berdaya. Bayangkan. Di tahun 2026 ini saja rata-rata hitungan pendapatan mereka adalah Rp 150.000 perminggu atau 600.000 perbulan.

Benar bahwa terkadang ada kenaikan dari itu, tetapi dari grafiknya tetap tak menaik melewati 100 persen. Kenaikan pendapatan biasanya hanya Rp 300 ribu untuk bulan-bulan tertentu saja. Kemampuan pendapatan ini jika dihitung dari sisi kesejahteraan tentu saja jauh dari harapan. Bahkan jika ukurannya adalah angka kemiskinan dari Pemerintah Indonesia yang sangat minim pun mereka masuk golongan miskin paling bawah karena hanya memiliki kemampuan rata-rata Rp 20.000 hingga 25.000 perhari. Kalau kemudian kita hubungkan dengan beban hidup keluarganya dengan istri dan dua atau tiga anak bagaimana hal ini mereka bisa bertahan hidup?

Tetapi kehidupan harus berjalan. Mereka tak bisa dan tak merasa perlu menghitung seperti halnya kita yang sedang menganalisa. Mereka menjalani hidup sebagai tanggungjawab untuk menjaga nafas. Memenuhi kebutuhan pokok keseharian dengan perburuan makanan dan tentu saja harus memperbaiki rumahnya secara bertahan selama puluhan tahun. Di luar itu mereka akan berkonsentrasi untuk membiayai anaknya bersekolah, minimal lulus Sekolah Dasar. Syukur-syukur bisa sekolah SMP. Adapun untuk sekolah SMA tentu mereka tak bisa membayangkan untuk memiliki kemampuan itu.

Penambang batu. Mereka adalah buruh yang berbagi hasil dengan pemilik lahan. Andalan pemasukan finansialnya adalah manakala ada truk datang membeli bebatuan bulatan untuk fondasi rumah atau untuk bangunan dinding (jenis batu templek).

Memahami kehidupan inilah Yayasan Odesa Indonesia bermaksud mengajak Anda sekalian untuk mengalirkan empati kepada mereka. Berbagi pakaian, terutama untuk alat keselamatan kerja adalah penting. Membantu pakaian biasa juga diperlukan supaya pendapatan mereka tak perlu dialokasikan membeli pakaian. Demikian juga dengan berbagi beras. Tentu itu meringankan beban kehidupan rumah tangga mereka. Sekiranya Bapak/Ibu/Sahabat sekalian memiliki rezeki berlebih, berkenanlah membantu mereka. Kami di Odesa Indonesia punya rencana membantu mereka dengan pemenuhan kebutuhan paling mendasar agar bermanfaat bagi mereka.

Sepatu Boots premium Rp 220.000 x 27 orang= Rp 5.940.000
Kaos tangan Rp 50.000 x 27 orang= Rp 1.350.000
Helm safety premium Rp 150.000 x 27.000= 4.500.000
Beras Rp 16.000 perkg x 25kg x 27 = 10.080.000

Baca selengkapnya ▾

  • May, 15 2026

    Campaign is published

Belum ada donasi untuk penggalangan dana ini

Doa-doa orang baik

Menanti doa-doa orang baik

Bagikan melalui:
✕ Close